Sabtu, 08 Oktober 2011

Aliran Ilmu Kalam

Latar Belakang
Ilmu kalam sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Di dalam ilmu kalam itu terdapat sub bahasan tentang perbandingan antara aliran-aliran serta ajaran-ajarannya. Dari perbandingan antar aliran ini, kita dapat mengetahui, menela’ah dan membandingkan antar paham aliran satu dengan aliran yang lain. Sehingga kita memahami maksud dari segala polemik yang ada.
Persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir, dalam artian siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam. Persoalan ini kemudian menjadi perbincangan aliran-aliran kalam dengan konotasi yang lebih umum, yakni status pelaku dosa besar. Kerangka berpikir yang digunakan tiap-tiap aliran ternyata mewarnai pandangan mereka tentang status pelaku dosa besar.
Selain itu persoalan yang juga timbul dalam teologi Islam adalah masalah iman dan kufur. Persoalan itu muncul pertama kali oleh kaum Khawarij tatkala mencap kafir sejumlah tokoh sahabat Nabi SAW yang dipandang telah berbuat dosa besar, Pernyataan teologis itu selanjutnya bergulir menjadi bahan perbincangan dalam setiap diskursus aliran-aliran teologi Islam yang tumbuh kemudian, termasuk aliran Murji’ah. Aliran lainnya, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah turut ambil bagian dalam polemik tersebut. Malah tak jarang di dalam tiap-tiap aliran tersebut terdapat perbedaan pandangan di antara sesama pengikutnya.

3.      Tujuan
1)      Mengetahui aliran apa saja yang membahas tentang pelaku dosa besar, iman dan kufur.
2)      Mengetahui isi perbandingan-perbandingan antar aliran.
3)      Mengetahui pandangan dan kerangka berpikir yang digunakan tiap-tiap aliran tentang status pelaku dosa besar, iman dan kufur.
Perbedaan antara Aliran dan Ilmu Kalam
Pelaku Dosa Besar
Khawariz
Khawarij merupakan aliran / kelompok pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perang shiffin dengan kelompok Bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khalifah.
Khawarij dan Doktri-Doktrin Pokoknya
Diantara doktrin-doktrin pokok khawarij adalah sebagai berikut :
• Doktrin politik
a. Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam.
b. Khalifah tidak harus dari keturunan Arab.
c. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan Syariat Islam.
• Doktrin Teologi
a. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.
b. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka.
c. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
• Doktrin Sosial
a.  Memalingkan ayat-ayat Al Qur’an yang tampak mutasyabihat.
b.  Qur’an adalah makhluk.
c.  Manusia bebas memutuskan peruatannya bukan dari Tuhan.
Murji’ah
Murji’ah adalah kelompok / aliran yang tetap pada barisan Ali bin Abi Thalib.
Doktrin – Doktrin Murji’ah
Ajaran pokok murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis.
Berkaitan dengan doktrin teologi murji’ah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut :
a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya kelak di akhirat
b. Penangguhan Ali untuk menduduki ranting keempat dan peringkat Al- Khalifah Ar- Rasyidin.
c. Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk
Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah golongan yang mengatakan bahwa orang melakukan dosa besar bukan mu’min dan bukan kafir, tetapi menduduki tempat diantara mu’min dan kafir.
Lima Ajaran Dasar Teologi Mu’tazilah
1. At-Tahuhid
a. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan Nya.
b. Untuk memurnikan keesaan Tuhan (Tanzih), mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan dan Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.
c. Tidak ada satupun yang  dapat menyamai Tuhan.
2. Al-‘Adl (Keadilan)
Ajaran tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, antara lain:
a. Perbuatan manusia
Asy’ariyah
Asy’ariyah yaitu mereka yang tidak mengkafirkan pelaku dosa besar menganggap perbuatannya halal maka ia disebut kafir. Apabila mati sebelum bertoubat maka Allah-lah yang mengetahui ganjarannya.
Maturidiyah.
Maturidiyah  yaitu mereka yang mengatakan pelaku dosa besar masih tetap mukmin karena masih ada keimanan dalam dirinya, adapun balasan yang diperoleh diakhirat tergantung pada apa yang dilakukannya di dunia
Syi’ah Zaidiah
Syi’ah Zaidiah adalah mereka yang mengatakan pelaku dosa besar akan kekal di neraka sebelum ia bertobat dengan sebenar benar tobat.

Iman dan kufur
Aliran Khawariz
Iman menurut pandangan khawariij tidak semata-mata percaya kepada Allah, mengerjakan kewajiban agama juga merupakan bagian dari iman.
Kufur menurut Khawariz adalah bagi siapa yang tidak mau bergabung kedalam barisan mereka, sedangkan pelaku dosa besar menurut mereka akan kekal dinraka selama-lamanya
Aliran Murji’ah
Berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya menggambarkan apa yang di dalam kalbu. Pelaku dosa besar menurut aliran ini tidak akan disiksa di neraka.
Kufur menurut Murji;ah Moderat adalah orang yang melakukan dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula kekal didalam neraka,mereka disiksa sebesar dosa yang mereka perbuat, dan jika diampuni Allah tidak masuk neraka sama sekali.
Aliran Muktazilah.
Iman menurut Muktazilah adalah amal perbuatan yang merupakan terpenting dalam konsep iman baahkan hampir mengidentikannya dengan iman .
Kufur menurut Muktazilah adalah orang yang berbuat dosa bukan kafir dan bukan muslim tapi dia adalah fasik.
AliranMaturidiyah
Maturidiyah Samarkand Iman adalah tasydiq bil Qalbi, bukan semata-mata  iqrar bi ala lisan, dan al Bazdawi menyatakan bahwa iman tidak daat berkurang tetapi bisa bertambah dengan adanya ibadah-ibadah yang dilakukan.
Kufur menurut mereka adalah orang yag melakukan dosa besar dan tidak bertobat pada Allah.

Perbuatan Tuhan dan perbuatan Manusia
Perbuatan Tuhan
Aliran Muktaziah Aliran
Mu’tazilah, sebagai aliran kalam yang bercorak Rasional, berpendapat bahwa perbuatan tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidak berarti bahwa tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk. Di dalam Al-qur’an pun jelas dikatakan bahwa tuhan tidaklah berbuat zalim. Ayat-ayat Al-qur’an yang dijadikan dalil oleh Mu’tazilah untuk mendukung pendapatnya diatas adalah surat Al-anbiyaa (21):23 dan surat Ar-rum (30) : 8. aliran Mu’tazilah memunculkan paham kewajiban Allah berikut ini :
a. Kewajiban tidak memberikan beban diluar kemampuan manusia.
Memberi beban diluar kemampuan manusia (taklif ma la yutaq) adalah bertentangan dengan faham berbuat baik dan terbaik. Hal ini bertetangan dengan faham mereka tentang keadilan tuhan. Tuhan akan bersifat tidak adil kalau Ia memberikan beban yang terlalu berat kepada manusia.
b. Kewajiban mengirimkan rasul
Tuhan berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia dengan cara mengirim rasul. Tanpa rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia dan di akhirat nanti.
c. Kewajiban menepati janji (al-wa’d) dan ancaman (wa’id)
Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah. Hal ini erat hubungannya dengan dasar keduanya, yaitu keadilan. Tuhan akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik dan menjalankan ancaman bagi orang-orang yang berbuat jahat. Selanjutnya keadaan tidak menepati janji dan tidak menjalankan ancaman bertentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia. Oleh karena itu menepati janji dan menjalankan ancaman adalah wajib bagi Tuhan
Aliran Asy’ariah
Menurut aliran asy’ariyah, faham kewajiban tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia (ash-shalah wa al-ashlah), sebagaimana dikatakan aliran Mu’tazilah , tidak dapat diterima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Hal ini ditegaskan Al-ghazali ketika mengatakan bahwa Tuhan tidak berkewajiban berbuat dan yang terbaik bagi manusia. Dengan demikian aliran asy’ariyah tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat bebuat sekehendak hati-Nya terhadap makhluk. Sebagaimana yang dikatakan Al-ghazali, perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib (Ja’iz) dan tidak satu pun darinya yang mempunyai sifat wajib.
Karena percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa , aliran asy’ariyah menerima faham pemberian beban diluar kemampuan manusia.
Aliran Maturidiyah ada 2 pandangan yaitu:
Aliran Maturidiyah Samarkand mereka berpendapat bahwa perbuatan tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja, dengan demikian tuhan berkewajiban melakukan yang baik bagi manusia. Demikian halnya dengan pengiriman rasul Maturidiyah Samarkand sebagai kewajiban Tuhan.
Maturidiyah Bukhara memiliki pandangan  bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Bazdawi, bahwa Tuhan pasti menepati janji-Nya, seperti memberi upah orang yang telah berbuat kebaikan. Adapun pandangan Maturidiyah Bukhara sesuai dengan faham mereka tentang kekuasaan Tuhan dan kehendak mutlak tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja.
Perbuatan manusia
1. Aliran Jabariyah
Jabariyah Ekstrim berpendapat bahwa segala perbuatan manusia bukanlah merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri.Jabariyah Moderat mengatakan bahwa tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik, tetapi manusia mempunyai peranan di dalamnya.
2. Aliran Qadariyah
Aliran Qadariyah menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri, baik itu berbuat baik maupun berbuat jahat.
 Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin islam sendiri banyak ayat Al-qur’an yang mendukung pendapat ini misalnya dalam surat Al-kahfi ayat ke-29 yang artinya : “katakanlah, kebenaran dari Tuhanmu, barang siapa yang mau, berimanlah dia, dan barang siapa yang ingin kafir maka kafirlah ia”.
3. Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah memandang manusia mempunyai daya yang besar dan bebas. Oleh karena itu, Mu’tazilah menganut faham Qadariyah atau free wil. Aliran Mu’tazilah mengecam keras faham yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan.  Aliran Mu’tazilah mengaku Tuhan sebagai pencipta awal, sedangkan manusia berperan sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya.
4. Aliran Asy’ariyah
Dalam faham Asy’ari, manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Ia diibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karena itu Aliran ini lebih dekat dengan faham jabariyah . Untuk membela keyakinan tersebut Al-Asy’ari mengemukan dalil Al-qur’an yang artinya : “Tuhan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”(Q.S. Ash-shaffat : 96).
Sifat- sifat Tuhan
1. Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu'tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat yang melekat pada dirinya.selanjutnya, Mu'tazilah berpendapat bahwa Tuhan bersifat immateri, dan tidak dapat dilihat dari mata kepala.
2. Aliran Asy’ariyah
Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat yang melekat padanya.
3. Aliran Maturidiyah
Maturidiyah tentang makna sifat Tuhan cendrung mendekati faham Mu'tazilah. Perbedaanya, bahwa Maturidi mengakui adanya sifat-sifat Tuhan.
4. Aliran Syiah Rafizah
 Tokoh Syi'ah Rafidhah menolak bahwa Tuhan senantiasa bersifat tau. Sebagian mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum ia berkehandak 

Kehendak Mutlak Tuhan Dan Keadilan Tuhan
Mu’tazilah
- Kekuasaan Tuhan tidak mutlak lagi
- Keadilan Tuhan mengandung arti Tuhan tidak berbuat dan tidak memilih yang buruk, tidak melalaikan kewajiban-kewajiban-Nya kepada manusia dan semua perbuatan Nya adalah baik.
 Asy’ariyah
- Kekuasaan Tuhan adalah mutlak
- Keadilan Tuhan mengandung arti bahwa tuhan Mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya.
 Maturidiyah
- M. Samarkand :
• Kehendak mutlak tuhan dibatasi oleh keadilan tuhan
• Keadilan Tuhan berarti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya kepada manusia.
- M. Bukhara
• Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak
• Kekuasaan Tuhan terletak pada kehendak mutlak-Nya, tidak ada satu dzat pun yang lebih kuasa daripada Nya dan tidak ada batasan-batasan bagi-Nya.

E. Contoh Perilaku Orang yang Beraliran Tertentu dalam Ilmu Kalam
Perilaku Mengagungkan Ahlulbait
Diantara perilaku orang yang beraliran dalam ilmu kalam adalah kaum yang mengagungkan keluarga nabi atau ahlul bait.Kta Ahlulbait bermakna keluarga rumah knabian, mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan pendidikan dalam naungan asuhan risalah yang tumbuh dalam keadaan suci dan berilmu
Pengertian Ahlul bait menurut istilah . Menurut imam al-ragib alshfahani(dalam kitab mufrodarat):”ahli sorang laki-laki ialah siapa saja yang berkumpul atau bersatu dengan laki-laki itu nasabnya,agamanya atau yang bekerjasama dalam usaha atau tingal di dalam rumahnya,atau tingal dalam satu negeri dengannya.maka yang disebut Ahlu Bait Nabi saw ialah semua orang yang ada hubungan keluarga  dengan Nabi saw
Berdasarkan dalil dalil dari ayat-ayat Alqur’an dan sunnah Rasulullah saw, kitab-kitab tafsir dan hadist menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bait saw adalah lima orang yaitu Rasulullah SAW, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Dari ummu Salamah diriwayatkan ketika turun ayat Alqur’an(al-ahzab:33) :

\"...انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت و يطهركم تطهيرا...\"
Ia berkata : Maka Rasulullah saw memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husein. Lalu berkata : Mereka adalah Ahlul Baitku (    هؤلاء اهل بيتي).(Mustadrok shohihain 3/158)
kekhususan Ahlulbait  Nabi

a    Ahlulbait diharamkan menerima sedekah
b    Ahlulbait memiliki Nasab dan asalusul yang mulia
c    Nasab Ahlulbait tidak akan putus sampai hari kiamat
d   Ahlulbait Mendapat gelar Syarif
e    Ahlulbait memiliki lembaga yang menjaga kesahihan Nasab
f    Ancaman bagi yang membenci dan menzalimi Ahlulbait
g   Kewajiban mencintai Ahlulbait
h   Hak menerima Shalawat
i    Hak menerima Ganimah
Perilaku Sangat Mengagungkan Akal Pikiran
Ada beberapa kaum dalam ilmu kalam yang sangat mengagungkan akal dan menomprduakan wahyu.  Adapun yang dimaksud dengan akal pikoran yaitu Anugrah ilahi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Hanya dengan berpanglak pada Hukum Tuhan pencipta manusia, akal dapt memaksimalkan tugas manusia sebagai khalifahdi bumi.
Akhir-akhir ini, sudah banyak bermunculan aliran-aliraan kalangan ummat Islam yang sesat dan menyesatkan. Mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan mereka, tapi mereka terlalu menggunakan logika pemikiran untuk mencerna ajaran Islam yang tidak masuk akal pada mereka, dengan dalih, demi kemanusiaan , keadilan. Mereka mencoba membuat pemahaman baru, mengganti “norma” yang telah ada.
Kelompok ini mungkin lupa, bahwa Allah-lah yang menciptakan makhluk termasuk manusia , jadi Allah lebih tahu tentang arti kemanusiaan. Allah juga zat Yang Maha Adi, maka tidak ada keputusan yang lebih adil dari apa yang ditetapkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad saw.
Perilaku Aliran Moderat
Dalam aliran ilmu kalam, terdapat kaum yang beraliran moderat. Adapun perilaku kaum aliran moderat adalah sebegai berikut.
Mengenai pokok-pokok agama
Merea sangat keras dan tidak meremehkannya sedikitun. Menafsirkan nash-nash Alquran dengan tafsiran yang memudahkan. Apabila ada pendapat yang sama-sama kuat, yang pertama lebih hati-hatiyang kedua lebih mudah maka mereka memilih yang kedua.
Mengembalikan kepada pokok
Menyatu dan mengikuti zaman serta perkembangannya bebas dari kemujudan dan taklid buta.
Penyesuaian antara salafiyah dan sufisme
Mereka mengambil ajaran-ajaran yang terbaik dari aliran kedua tersebut sehingga akan muncul intisari bermanfaat.
Bersikap moderat
Kaku dalam melihat zahir nash dan berlebihan dalam menakwirkan teks agama.
Perimbangan antara sawabit dan mutagayyirat
Sawabit adalah pertama akidah; yaitu pandangan atau ajaran islam seara menyeluruh tentang ketuhanan dan ibadak
Kedua, ibadah yang diwajibkan Allah kepada seluruh Hambanya
Ketiga, berakhlah mulia, dan inti dari berakhlak mulia yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya adalah ikhlas.

Menggabungkan antar kewajiban dan realita
Ada tiga asas dalam mengubah realita :
1). Melihat kepentingan dan kebutuhan
2). Memilih dampak bahaya yang ringan
3). Menerapkan proses bertahap.
Toleransi dan hidup Berdampingan dengan sesama
Menolak segala aksi kekerasan serta mengajak untuk hidup berdanpingan dan saling toleransi terhadap sesama, tidak terkecuali nonmuslim.
Memberi Kebebasan kepada Masyarakat
Mengakui pluralitas dan perpolitikan, multi partai seperti halnya dengan multi majhab dalam Fikih, pendapat mayoritas berlaku untuk minoritas. Maka daari itu perlu untuk mengambil sikap serta langkah-langkah yang demokratis untuk mencegah sepak terjang pemimpin-pemimpin yang zalim.
Menempatkan perempuan sebagai saudara kembar laki-laki
“dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh atau mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar
Menghidupkan kembali Ijtihad
Menghormati hasil-hasil ijtihad walaupun berbeda pendapat, yang terpenting hal itu bersumber dari ahlinya dan pada tempatnya. “saling bekerjasama dalam permasalahan yang kita sepakati, dan sering memahami antara satu dengan yang lain dengan berbedaan pendapat suatu masalah.
Perilaku Aliran Fatalis( berserah pada takdir)
Dalam istilha sosiologi, fatalis atau “fatalism” sering diartikan dengan makna “menyerah kepada nasik” ungkapan ini biasanya dikaitkan dengan perilaku (sikap, tindakan dan pengetahuan) masyarakat yang suasana kehidupannya mengenaskan dan sering kali terpinggirkan dari hirup pikuknya pembangunan.
Kaum fatalis ini cenderung bertalian dengan adanya bagiab dari anak bangsayang tertinggal” oleh laju pembangunan. Mereka adalah kaum yang kondisi kehidupannya belum menetap dan masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tak berujung pangkal.
Perilaku mengkafirkan orang yang tidak menghukumi dengan Al-Qur’an
Mengenai perilaku yang beraliran dalam ilmu kalam, didapati kaum keras dan ekstrem. Mereka hidup secara exclusive, menyingkir dalam kehidupan masyarakat, memusuhi orang orang diluar kelompoknya.Mereka mudah menuduh orang lain, berani menghalalkan hak hak umat islam , menyebarkan permusuhan dikalangan umat islam dan yang paling eksterm adalah berani mengkafirkan sesama muslim

F. Menghargai Terhadap Alran-aliran yang Berbeda
Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai orang atau kelompok yang berbeda aliran dengan kita. Islam mengajarkan sikap tenggang rasa serta toleransi terhadap sesama manusia. Jika kita tidak menanamkan sikap saling menghargai terhadap orang lain mka kita selalu menjumpai pertengkaran, permusuhan bahkan berujung pembunuhan. Dalam menyikapi aliran yang berbeda Islam sangat tegas memerintah kan umatnya untuk bersikap saling menghormati perbedaan dan melarang umat nya saling menyakiti.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku dosa besar. Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan dengan Mu'tazilah mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat.
Kaum Mu'tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan mengerjakan yang baik.
Menurut aliran Asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan sebagainya, juga menyatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya. Menurut subsekte Murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan. Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat
serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban hanya terhadap manusia. pendapat ini lebih dekat dengan Mu'tazilah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar