Sabtu, 07 Desember 2013

Teleskop. Osiloskop dan Multimeter


     A.   TELESKOP

Sebuah teleskop adalah alat yang digunakan untuk memperbesar objek jauh

 Tujuan lensa (dalam refractors) atau cermin primer (dalam reflektor) mengumpulkan banyak cahaya dari  objek yang jauh dan membawa cahaya, atau gambar, pada suatu titik atau fokus.
Sebuah lensa lensa mata mengambil cahaya terang dari tujuan fokus lensa atau cermin primer dan “menyebar keluar” (memuliakan itu) untuk mengambil sebagian besar retina. Ini adalah prinsip yang sama bahwa kaca pembesar (lensa) menggunakan; tidak memakan gambar kecil di atas kertas dan menyebar keluar atas retina mata anda sehingga tampak besar
Ketika Anda menggabungkan tujuan utama lensa atau cermin dengan lensa mata, Anda memiliki teleskop. Sekali lagi, ide dasar adalah untuk mengumpulkan banyak cahaya terang untuk membentuk citra di dalam teleskop,
Teleskop harus didukung oleh beberapa jenis berdiri, atau mount – jika tidak, anda harus mempertahankannya sepanjang waktu. Mount teleskop memungkinkan anda untuk:
* Menjaga teleskop mantap
* Arahkan teleskop di bintang-bintang atau benda lainnya (burung)
* Mengatur teleskop untuk pergerakan bintang-bintang yang disebabkan oleh rotasi bumi
* Gratis tangan Anda untuk kegiatan lainnya (fokus, mengubah eyepieces, mencatat,  menggambar)
Ada banyak jenis lensa mata desain:
Huygens
* Ramsden
* Orthoscopic
* Kellner dan RKE
* Erfle
* Plossl
* Nagler
* Barlow (digunakan dalam kombinasi dengan lensa mata lain untuk meningkatkan perbesaran 2 sampai 3 kali
Cara Menggunakan Suatu Teleskop  

Instructions Instruksi

Apa yang Anda butuhkan

  • Teleskop
  • Daerah ke tempat teleskop
  • Barang untuk melihat
v  Menemukan daerah mana barang-barang Anda ingin melihat tidak terhalang oleh pohon-pohon untuk mengatur teleskop Anda sehingga Anda mendapatkan pandangan yang jelas dari langit.
v  Lihat untuk melihat apakah teleskop Anda memiliki sumbu polar. Jika tidak, itu akan melacak apa pun yang Anda cari di. Jika Anda memiliki teleskop dengan sumbu kutub, ikuti petunjuk produsen Anda tentang cara untuk menyelaraskan sumbu kutub dan lingkup pencari.
v  Pilih lensa dengan perbesaran terendah yang Anda miliki.. Selalu mulai dengan perbesaran lensa mata terendah sampai Anda menjadi lebih berpengalaman dalam menggunakan teleskop Anda.
v  Cari item di langit malam yang ingin Anda mengamati dan fokus dalam pada itu. Pindahkan planet atau bintang Anda sedang melihat sebagai dekat dengan pusat bidang pandang dalam lensa mata mungkin.
v  Lepaskan lensa mata perbesaran rendah dan menggantinya dengan lensa dengan perbesaran yang lebih tinggi.
v  Menyesuaikan kembali keselarasan dari teleskop ketika planet atau bintang melayang keluar dari pandangan jika Anda memiliki mount teleskop manual.
v  Lanjutkan dengan cara ini, mengamati planet dan bintang-bintang terlihat berbeda.

Tips & Petunjuk

ü  Sebuah lensa perbesaran rendah lebih mudah digunakan karena memberikan Anda sebuah bidang yang lebih luas visi dari lensa pembesaran tinggi sehingga lebih mudah untuk menemukan apa yang Anda cari.
ü  Jika Anda kehilangan item yang Anda lihat ketika bertukar eyepieces ke bagian perbesaran yang lebih tinggi, hanya menempatkan lensa perbesaran rendah kembali pada teleskop dan mencoba lagi.
ü  Sebagai perbesaran lensa mata meningkat, kecerahan gambar akan menurun.
ü  Anda dapat melampirkan lensa okuler Barlow untuk Anda untuk dua atau tiga kali lipat perbesaran lensa mata.
Detektor Cahaya

Lama sebelum orang menggunakan teknik perekaman gambar dengan pelat fotografi, detektor cahaya utama dalam pengamatan adalah mata pengamat.  Teknik yang sampai saat ini masih dilakukan adalah mengintip langsung melalui okuler, kemudian memindahkan bayangan yang ditangkap mata ke dalam lembar-lembar kertas dalam bentuk gambar. Cara ini kadang bersifat subyektif, karena sering kali dikaburkan oleh imajinasi pengamat. Sebagai contoh gambaran kanal-kanal pada permukaan Mars oleh Lowel, sedikit banyak menggambarkan demam makhluk asing dari Mars pada waktu itu. Namun demikian tidak serta merta pengamatan Lowel ini dapat diabaikan, karena mungkin saja pada waktu itu Lowel memang melihat suatu obyek di sekitar Mars, sayangnya sekali  lagi obyek itu tidak terekam dan disinlah ridara perlunya sebuah detektor cahaya seperti plat foto.



    B.   OSILOSKOP

 
Osiloskop adalah sebuah perangkat atau alat bantu yang biasa digunakan untuk menganalisa frekuensi yang terdapat didalam perangkat elektronika, dan biasanya yang sering digunakan oleh para teknisi pesawat televisi, namun Osiliscop ini juga dapat dipergunakan dalam menganalisa frekuensi handphon, walaupupun jika dilihat dari sisi fungsi kurang efisien dalam melakukan analisa pada perangkat ponsel, namun banyak para teknisi dan lembaga pelatihan teknisi handphone menggunakan perangkat osiloskop tersebut.

Petunjuk dalam menggunakan perangkat tersebut :
Fungsi dari tiap-tiap bagian:
1. POSITION :
Untuk mengatur posisi berkas signal arah vertical untuk channel 1.
2. DC. BAL :
Untuk menyeimbangkan DC vertical guna pemakaian channel 1 (atau Y ), Penyetelan dilakukan sampai posisi gambar diam pada saat variabel diputar.
3. INPUT :
Terminal masukan pada saat pengukuran pada CH 1 juga digunakan untuk
4. AC ? GND ? DC
Posisi AC = Untuk megukur AC, objek ukur DC tidak bisa diukur melaluiposisi ini, karena signal DC akan terblokir oleh kapasitor.Posisi GND = Terminal ini terbuka dan berkas merupakan garis nol/lived nol.Posisi DC = Untuk mengukur tegangan DC dan masukan-masukan yang lain.
5. VOLT/DIV :
Sakelar putar untuk memilih besarnya tegangan per cm (volt/div) pada layar CRT,ada II tingkat besaran tegangan yang tersedia dari 0,01 v/div s.d 20V/div

6 VARIABLE :
Untuk mengontrol sensitifitas arah vertical pada CH 1 (Y). pada putaran maksimalke arah jarum jam (CAL) gunanya untuk mengkalibrasi mengecek apakahtegangan 1 volt tepat 1 cm pada skala layar CRT.
7 MODE (CH 1, CH 2, DUAL, ADD, SUB)
CH 1 : Jika signal yang diukur menggunakan CH 1, maka posisi switch pada CH 1 dan berkas yang nampak pada layar hanya ada satu. CH 2 : Jika signal yang diukur menggunakan CH 2, maka posisi switch pada CH 2 dan berkas yang nampak pada layar hanya satu. DUAL : Yaitu suatu posisi switch apabila hendak mengunakan CH 1 dan CH 2 secara bersamaan, dan pada layar pun akan tampak dua berkas. ADD : Bentuk gelombang dari kedua channel masukan yang dapat dijumlahkansecara aljabar dan penjumlahannya dapat dilihat dalam bentuk satu gambar. SUB : Masukan dengan polaritas terbaik pada CH 2, ditambah masukan CH 1, maka perbedaan secara aljabar akan tampak satu gambar pada layar.
Apabila CH 1 tidak diberi signal masukan, maka bentuk gelombang Dengan polaritas terbaik dari channel 2 akan tampak.
8. LED PILOT LAMP :
Lampu indicator untuk power masuk, apabila switch ILLUM diputar ke on.
9. ILLUM :
Bila diputar berlawanan jarum jam maksimum, maka power AC akan mati dan jika ke kanan, maka power AC akan masuk dengan ditandai LED pilot lampu menyala.
10. INTENSITY :
Untuk mengatur gelap atau terangnya berkas sinar supaya enak pada penglihatan.Diputar ke kiri untuk memperlemah sinar dan apabila diputar ke kanan akan membuat terang
11. FOCUS :
Untuk memperkecil/menebalkan berkas sinar atau garis untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas.
12. ASTIG :
Pengaturan astigmatisma adalah untuk memperoleh titik cahaya yang lebih baik ketika menyetel FOCUS
13. EXT-TRIG :
Terminal dari sinkronisasi eksternal tegangan eksternal yang lebih dari IV peak To peak harus menggunakan switch SOURCE di set pada posisi EXT.
14. SOURCE :
Sakelar dengan tiga posisi untuk memilih tegangan sinkronisasi. CH 1 : Huruf akan sinkron dengan masukan gelombang dari CH 1. Jika menggunakan CH 1 hendaklah switch source ditetapkan pada CH 1.
CH 2 : Sweep akan sinkron dengan masukan gelombang dari CH 2. Apabila menggunakan CH 2 hendaknya switch source diletakkan pada CH 2. Sweep CH 1 dan CH 2 akan sikron pula pada saat menggunakan DC/AC. EXT : Sweep akan sikron dengan masukan signal dari luar melalui terminal EXT + TR 16 (19).
15. SYNC :
Sakelar pemisah sinkronisasi.
15. LEVEL;
Meengontrol sync level adalah mengatur phase sync untuk menentukan bentuk titik awal gelombang signal.
16. PULL AUTO
Dengan mencabut pemutar level sweep akan sedikit terganggu.bentuk gelombang - tidak diam selama tidak menggunakan signal trigger,yang nampak hanyalah garis lurus dan ini akan terjadi bila signal teriger masuk.
17 POSITION.
Untuk menyetel kekiri dan kekanan berkas gambar ( posisi arah horizontal) Switch pelipat sweep dengan menarik knop ,bentuk gelombang dilipatkan 5 Kali lipat kearah kiri dan kearah kanan usahakan cahaya seruncing mungkin.
18. SWEEP TIME /DIV;
Yaitu untuk memilih skala besaran waktu dari suatu priode atau pun squaretrap Cm (div ) sekitar 19 tingkat besaranyang tersedia terdiri dari 0,5 s/d 0,5 second.pengoperasian X-Y didapatkan dengan memutar penuh kearah jarum jam.perpindahan Chop-ALT-TVV-TVH.secara otomatis dari sini.Pembacaan kalibrasi sweep time/div juga dari sini dengan cara variabel diputar penuh searah jarum jam.
19. VARIABEL;
Digunakan untuk menyetel sweeptime pada posisi putaran maksimum arah jarum jam. ( CAL ) tiap tingkat dari 19 posisi dalam keadaan terkalibrasi .
20. CAL IV PP
Yaitu terminal untuk mengkalibrasi voltage frequency chanel 1 dan chanel 2 dimana untuk frequency 1 Khz tegangan harus 1 volt P-P.
21. AC VOLTAGE SELECTOR ;
Untuk menyetel tegangan listrik 110 Volt atau 220 Volt.
22. INT MOD
Teminal intensitas Brightness

Osiloskop berguna untuk: melihat tingkah laku tegangan gelombang secara visual, ada beberapa jenis tegangan gelombang yang akan diperlihatkan pada layar monitor osiloskop .
1) Gelombang sinusoida
2) Gelombang blok
3) Gelombang gigi gergaji
4) Gelombang segitiga.
Untuk dapat menggunakan osiloskop, harus bisa memahaami tombol-tombol yg ada pada pesawat perangkat ini,seperti telah diutarakan diatas.
Secara umum osiloskop hanya untuk circuit osilator ( VCO ) disemua perangkat yg menggunakan rangkaian VCO.
Walau sudah berpengalaman dalam hal menggunakan osiloskop, kita harus mempelajari tombol instruksi dari pabrik yg mengeluarkan alat itu.



   C.   MULTIMETER

Cara menggunakan Multimeter
  1. Mengukur tegangan DC
o    Atur Selektor pada posisi DCV.
o    Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
o    Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak  rusak.
o    Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek, probe warna merah pada posisi (+) dan probe  warna hitam pada titik (-) tidak boleh terbalik.
o    Baca hasil ukur pada multimeter.
  1. Mengukur tegangan AC
o    Atur Selektor pada posisi ACV.
o    Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
o    Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
o    Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek. Pemasangan probe multimeter boleh terbalik.
o    Baca hasil ukur pada multimeter.

  1. Mengukur kuat arus DC
o    Atur Selektor pada posisi DCA.
o    Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar arus yang akan di cek, misal : arus yang di cek sekitar 100mA maka atur posisi skala di batas ukur 250mA atau 500mA.
o    Perhatikan dengan benar batas maksimal kuat arus yang mampu diukur oleh multimeter karena jika melebihi batas maka fuse (sekring) pada multimeter akan putus dan multimeter sementara tidak bisa dipakai dan fuse (sekring) harus diganti dulu.
o    Pemasangan probe multimeter tidak sama dengan saat  pengukuran tegangan DC dan AC, karena mengukur arus berarti  kita memutus salah satu hubungan catu daya ke beban yang akan dicek arusnya, lalu menjadikan multimeter sebagai penghubung.
o    Hubungkan probe multimeter merah pada output tegangan (+) catu daya dan probe (-) pada input tegangan (+) dari beban/rangkaian yang akan dicek pemakaian arusnya.
o    Baca hasil ukur pada multimeter.
  1. Mengukur nilai hambatan sebuah resistor tetap
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur berdasarkan nilai resistor yang akan diukur.
o    Batas ukur ohmmeter biasanya diawali dengan X (kali), artinya hasil penunjukkan jarum nantinya dikalikan dengan angka pengali sesuai batas ukur
o    Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung resistor boleh terbalik.
o    Baca hasil ukur pada multimeter, pastikan nilai penunjukan multimeter sama dengan nilai yang ditunjukkan oleh gelang warna resistor.
  1. Mengukur nilai hambatan sebuah resistor variabel (VR)
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur berdasarkan nilai variabel resistor (VR)yang akan diukur.
o    Batas ukur ohmmeter biasanya diawali dengan X (kali), artinya hasil penunjukkan jarum nantinya dikalikan dengan angka  pengali sesuai batas ukur.
o    Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung resistor boleh terbalik.
o    Sambil membaca hasil ukur pada multimeter, putar/geser posisi variabel resistor dan pastikan penunjukan jarum multimeter berubah sesuai dengan putaran VR.
  1. Mengecek hubung-singkat / koneksi
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur X 1 (kali satu).
o    Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung kabel/terminal yang akan dicek koneksinya.
o    Baca hasil ukur pada multimeter, semakin kecil nilai hambatan yang ditunjukkan maka semakin baik konektivitasnya.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk kemungkinan kabel atau  terminal tersebut putus.

  1. Mengecek diode
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
o    Hubungkan  probe multimeter (-) pada anoda dan probe (+) pada katoda.
o    Jika diode yang dicek berupa led maka batas ukur pada X1 dan saat dicek, led akan menyala.
o    Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar  5-20K) berarti dioda baik, jika tidak menunjuk berarti dioda  rusak putus.
o    Lepaskan kedua probe lalu hubungkan  probe multimeter (+) pada anoda dan probe (-) pada katoda.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti  dioda baik, jika bergerak berarti dioda rusak bocor tembus  katoda-anoda.
  1. Mengecek transistor NPN
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
o    Hubungkan  probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada kolektor .
o    Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti  transistor rusak putus B-C.
o    Lepaskan kedua probe lalu hubungkan  probe multimeter (+)  pada basis dan probe (-) pada kolektor.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-C.
o    Hubungkan  probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada emitor.
o    Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar  5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti  transistor rusak putus B-E.
o    Lepaskan kedua probe lalu hubungkan  probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada emitor.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-E.
o    Hubungkan  probe multimeter (+) pada emitor dan probe (-) pada kolektor.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus C-E.
o    Note : pengecekan probe multimeter (-) pada emitor dan probe (+) padakolektor tidak diperlukan.
9.   Mengecek transistor PNP
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
o    Hubungkan  probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada kolektor.
o    Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-C.
o    Lepaskan kedua probe lalu hubungkan  probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada kolektor.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-C.
o    Hubungkan  probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada emitor.
o    Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-E.
o    Lepaskan kedua probe lalu hubungkan  probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada emitor.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-E.
o    Hubungkan  probe multimeter (-) pada emitor dan probe (+) pada kolektor.
o    Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus C-E.
o    Note : pengecekan probe multimeter (+) pada emitor dan probe (-) pada kolektor tidak diperlukan.
  1. Mengecek Kapasitor Elektrolit (Elko)
o    Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
o    Pilih skala batas ukur X 1 untuk nilai elko diatas 1000uF, X 10 untuk untuk nilai elko diatas 100uF-1000uF, X 100 untuk nilai elko 10uF-100uF dan X 1K untuk nilai elko dibawah 10uF.
o    Hubungkan  probe multimeter (-) pada kaki (+) elko dan probe (+) pada kaki (-) elko.
o    Pastikan jarum multimeter bergerak kekanan sampai nilai tertentu (tergantung nilai elko) lalu kembali ke posisi semula.
o    Jika jarum bergerak dan tidak kembali maka dipastikan elko bocor.
o    Jika jarum tidak bergerak maka elko kering / tidak menghantar.



PENUTUP
KESIMPULAN

Cara Kerja Teleskop Kekhasan cahaya kasat mata adalah dapat dibelokan ketika melalui medium yang lebih rapat. Ketika melalui sebuah kaca, berkas cahaya cenderung berbelok menjauhi garis normalnya. Prinsip ini yang digunakan untuk membuat teleskop yang kita kenal selama ini.P ada dasarnya teleskop memiliki dua buah optik utama yaitu Obyektif yang berfungsi sebagai kolektor cahaya, dan Okuler yang berfungsi untuk memperbesar bayangan

Cara kerja Osiloskop > Saat kita mengkoneksikan probe ke sebuah rangkaian, Sinyal tegangan mengalir dari probe menuju ke pengaturan vertikal dari sebuah sistem . Tegangan yang keluar dari sistem vertikal lalu diteruskan menuju Pelat Defleksi vertikal pada sebuah CRT [ Catode Ray Tube, Akan dijelaskan nanti ]  Sampai Point ini dapat kita simpulkan bahwa Vertical System pada osiloskop analog ada untuk mengatur penampakan Amplitudo dari sinyal yang diamati. Sinyal masuk ke dalam Pelat defleksi vertikal. Sinyal Yang keluar dari Vertikal Sytem tadi juga diarahkan ke Trigger System untuk memicu sweep generator dalam menciptakan apa yang disebut dengan "Horizontal Sweep"

Cara kerja Multimeter : mengukur tegangan AC, DC mengukur kuat arus DC, Mengukur nilai hambatan sebuah resistor tetap, Mengukur nilai hambatan sebuah resistor variabel (VR)



DAFTAR PUSTAKA

www.Osiloskop.com
wwwiloveskateboardblogspotcom.blogspot.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Multimeter
http://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop



Tidak ada komentar:

Posting Komentar