Sabtu, 07 Desember 2013

Farmasi Pada Masa China Kuno







          FARMASI PADA MASA CINA KUNO










Nama   : Diah Lestari Harahap
NPM    : 2013210055
Kelas   : E






 FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2013



Farmasi pada Masa Cina Kuno
Kefarmasian di Cina menurut legenda pertama kali dikembangkan oleh Shen Nung (sekitar 2000 SM). Shen Nung juga di kenal sebagai bapak kedokteran dan Farmakologi China. dan juga seorang  kaisar yang menguasai Cina selama lebih dari 140 tahun . Sementara dikenal sebagai ' The Red Emperor '. Dalam obat-obatan Cina  ia dianggap pelindung semua dukun dan apotek serta penulis The Great Herbal Cina. Seorang kepala suku ( kaisar )  yang telah mencari dan menginvestigasi khasiat obat dari ratusan herbal. Beliau diyakini mencobakan beberapa herbal tersebut terhadap dirinya sendiri, serta menulis Pen T-Sao pertama, tulisan tentang herbal-herbal asli yang berisikan 365 jenis obat-obatan. Sesuatu yang masih dipuja oleh orang cina asli penghasil obat sebagai wujud perlindungan Tuhan untuk mereka. Shen Nung secara menakjubkan menguji beberapa herbal, kulit kayu, dan akar yang diperoleh dari ladang, rawa-rawa, dan hutan yang masih dikenal dalam bidang kefarmasian hingga kini. Menggunakan background “Pa Kua”, suatu simbol matematis dari penciptaan dan kehidupan. Tanaman-tanaman obat yang ditemukan oleh Shen Nung antara lain podophyllum, rhubarb, ginseng, stramonium, kulit kayu cinnamon, dan juga seperti yang berada di tangan bocah pada gambar, ma huang, atau disebut juga ephedra. Shen Nung juga di kenal sebagai bapak kedokteran dan Farmakologi China, sampai sekarang masih di gunakan oleh praktisi obat tradisional di China. Buku tentang bahan obat2an pertama kali ditulis di Cina sekitar 2735 SM
Ahli Farmasi Li Shizhen
Pada zaman dinasti Ming sekitar abad ke-16, ahli farmasi terkenal Li Shizhen telah menyusun satu buku yang berjudul Garis Besar Bencao, buku itu menjadi karya klasik dalam sejarah obat-obatan Tiongkok.
   Li Shizhen (1518~1593) adalah orang Jizhou Propinsi Hubei Tiongkok selatan. Karena ayah Li Shizhen adalah seorang dokter, sejak kecil Li Shizhen sering ikut ayahnya memetik tumbuhan obat-obatan di gunung lalu mengolahkan tumbuhan itu menjadi obat-obatan.
Pada tahun 1531, Li Shizhen yang berumur 14 tahun gagal dalam pengujian nasional. Sejak itu ia berupaya meneliti kedokteran dan mengobati rakyat biasa. Li Shizhen mengumpulkan banyak resep obat, maka ia berpengetahuan banyak terhadap obat-obatan.
Untuk menyusun buku obat-obatan baru, Li Shizhen telah membaca karya kedokteran dan buku kuno sejumlah 800 jilid lebih, pernah tiga kali mengamademen buku  itu. melalui upaya selama hampir 30 tahun, pada tahun 1578 Li Shizhen telah menyelesaikan buku Garis Besar Bencao yang terkenal di dunia.
Garis Besar Bencao telah mencatat 1892 macam obat-obatan, dan 11000 lebih macam resep obat. Sementara itu dalam buku itu terdapat lukisan obat-obatan sejumlah 1000 lebih. Garis Besar Bencao diperkenalkan ke berbagai tempat dunia sejak abad ke-17, dan menjadi karya penting penelitian   farmasi jaman modern maupun pada zaman sekarang
Selain kedokteran, Li Shizhen juga berprestasi di bidang kimia, geografi, astronomi dan meteorologi, dan oleh karena itu itu termasuk salah seorang ilmuwan yang paling jaya dalam sejarah. Tahun 1593, Li Shizhen meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Tak lama setelah ia wafat, Kitab Bencao Gangmu resmi diterbitkan, dan tersebar ke Jepang. Pada hari kemudian, kitab itu diterjemahkan dalam bahasa Latin, Jerman, Perancis, Inggris, dan Rusia untuk tersebar di seluruh dunia dan dijuluki sebagai "kitab kedokteran Timur

Gebrakan Cina di Industri Farmasi
Dunia harus bersiap untuk produk vaksin baru buatan Cina. Produsen vaksin negeri tirai bambu itu tengah bersiap dalam beberapa tahun mendatang mendorong ekspor vaksin, sebuah langkah yang diharap memotong biaya imunisasi penyelamat nyawa terutama di kawasan negara berkembang. Langkah itu juga dinilai akan menyodorkan iklim kompetitif terhadap perusahaan besar farmasi Barat.   
Namun, itu bisa jadi membutuhkan waktu sebelum sebagian dunia siap menerima produk Cina mengingat keamanan menjadi isu sensitif seperti pula vaksinnya. Kondisi itu tak lepas dari skandal makanan, obat-obatan dan produk lain yang kerap menghiasi negara itu.
Kemampuan Cina dalam pembuatan vaksin yang kian moncer mencuri perhatian dunia pada 2009. Saat itu salah satu perusahaan berhasil menghasilkan satu vaksin yang efektif menghadang flu babi--hanya dalam 87 hari--begitu virus baru itu menyapu dunia. Pada masa sebelumnya, perlombaan vaksin baru selalu dimenangkan oleh AS dan Eropa.
Kemudian pada Maret lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa otoritas keamanan obat-obatan Cina telah memenuhi standar kebijakan vaksin internasional. Cina menjadi kekuatan produksi vaksin dengan lebih dari 30 perusahaan.
Masuknya Cina dalam industri vaksin sangat penting karena satu orang meninggal setiap 20 detik akibat penyakit yang seharusnya bisa ditangani oleh vaksin.  Lembaga itu menyuplai kebutuhan vaksin anak-anak dunia hingga 60 persen.
Penerapan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN-China dikhawatirkan akan berdampak pada membanjirnya obat-obatan impor China apalagi bila tidak ada perlindungan dari pemerintah. Hal ini bisa menyebabkan banyak industri farmasi dalam negeri makin terpuruk dan terancam gulung tikar. "Dengan harga yang murah, obat-obatan impor China bisa membanjiri pasaran. Apalagi China lebih banyak memproduksi dan memasarkan obat-obatan generik bermerek," kata Ketua Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Anthony Ch Sunarjo, Minggu (10/1/2010) malam, di Jakarta.
GP Farmasi beranggotakan 208 perusahaan farmasi, dan 15 perusahaan di antaranya termasuk perusahaan asing yang memiliki pabrik di Indonesia. Adapun ratusan perusahaan farmasi lain yang menjadi anggota GP Farmasi termasuk industri nasional skala kecil dan menengah.
Sebelum FTA berlaku, Indonesia sudah mengalami ketergantungan terhadap China terutama dari segi pasokan bahan baku obat. Pada tahun 80-an, sebanyak 80 persen dari bahan baku obat diimpor dari Eropa, dan sisanya diimpor dari India dan China. Sekarang justru sebaliknya, 80 persen dari total jumlah bahan baku obat Indonesia diimpor dari China, dan sebagian kecil dari India.
Selain obat-obatan tradisional, ternyata saat ini China mulai merajai pasar obat moderen atau rasional termasuk obat hipertensi, obat bagi penyandang diabetes, dan obat-obatan anti kanker.
Selain gencar memproduksi bahan baku obat, ternyata China juga mulai mengembangkan produksi obat modern yang termasuk dalam kategori generik bermerek dengan harga sangat murah. "Jadi China bukan hanya memproduksi bahan baku, tetapi juga mulai memproduksi bahan jadi obat. Ini yang bisa memukul industri farmasi, karena China bisa menjual produknya dengan harga lebih murah.

1 komentar: